Dari Mushaf ke Kelas: “Pentingnya Literasi Al-Qur’an Sebelum Belajar”
Adi Syahputra, S.Pd.I., M.Pd |
19 Januari 2026
Detail Literasi:
Hari ini banyak sekolah terlalu sibuk dengan nilai prestasi akademik, semangat berlomba-lomba menjadi sekolah unggul. Jam pelajaran banyak dipadatkan demi tujuan sekolahnya tercapai, kurikulum dikejar, dan nilai jadi parameter utama keberhasilan seorang siswa. Namun, kadang kita terlupa: apakah batin siswa benar-benar siap dalam memulai pembelajaran? Tentu, ini adalah pertanyaan dasar yang harus dijawab bagi setiap sekolah disemua jenjang.
Dibanyak sekolah, literasi hanya dipandang sebagai rutinitas belaka. Dilakukan iya, dihayati belum tentu. Padahal, krisis adab, kesenjangan sosial dan menurunya motivasi belajar siswa semakin nyata, sebagaimana akhir-akhir ini terjadi pengeroyokan dari siswa terhadap seorang gurunya disuatu wilayah tertentu. Ini bukti kecil bahwa dunia pendidikan kita telah kehilangan ruhnya sehingga hal ini menjadi PR besar untuk mengembalikan warna pendidikan berdasarkan karakter dan nilai spiritualnya.
Literasi Al-Qur’an adalah salah satu solusi utamanya. Sebelum belajar seharusnya guru mampu memberikan ruang jeda yang bermakna kepada siswa bukan hanya sekedar membaca agar dianggap serius, tetapi bentuk proses untuk menata dan membangun niat belajar. Al-Qur’an hadir bukan hanya mencerdaskan isi kepala, namun juga menjernihkan hati. Tanpa fondasi spiritual, maka ilmu akan mudah hilang arah dan nilainya. Mirisnya, literasi hanya sebagai formalitas, bahkan membacanya tergesa-gesa bahkan sambil lalu. Maka, jangan heran dampaknya tidak membekas kepada siswa. Padahal jika dilakukan dengan sungguh-sungguh literasi Al-Qur’an mampu membangkitkan atmosfer kelas yang positif. Dari kebiasaan inilah disiplin, kesabaran, fokus, dan ketenangan hati perlahan tumbuh.
Guru memegang peran kunci dalam menentukan makna kegiatan ini. Guru bukan hanya sekedar membimbing atau mengawasi akan lahirnya siswa yang berpotensi. Namun, guru yang membersamai dengan keteladanan akan menanamkan makna. Cukup dengan satu ayat, satu pesan singkat, atau satu pengingat tentang niat belajar, literasi Al-Qur’an bisa menjadi momen refleksi yang kuat. Al-Qur’an sendiri menegaskan, “Kitab (Al-Qur’an) ini Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayat-Nya” (QS. Shad: 29). Lebih dari itu, literasi Al-Qur’an menjadi penyeimbang di tengah tingginya tuntutan akademik. Di era yang serba cepat, siswa membutuhkan ruang untuk menenangkan jiwa. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca setiap pagi menjadi pengingat tentang tujuan hidup dan arah belajar, sehingga siswa tidak mudah kehilangan motivasi. Mulailah dari one day one ayat, ketika ini menjadi kebiasaan maka akan menjadi one day one page, bahkan mampu untuk one day one juz dan seterusnya.
Al-Qur’an hadir bertujuan untuk menenangkan jiwa seseorang, mejadi huda (petunjuk) bagi pembacanya. Tidak sedikit dari siswa kita bila di dalam kelas banyak yang tidak fokus ketika pembelajaran di pagi hari. Kepala dimeja, tidur di sudut kelas, bahkan hari-hari hanya datang duduk dan pulang. Ini adalah fenomena yang nyata kita hadapi sehari-hari. Dengan demikian, solusinya Al-Qur’an harus jadi asupannya di pagi hari sehingga lebih segar dan semangat untuk memulai pembelajaran.
Pada akhirnya, dari mushaf ke kelas, literasi Al-Qur’an menghadirkan suasana belajar yang lebih bermakna. Guru tidak boleh lelah untuk terus membangun minat belajar siswanya. Hal ini juga ditgaskan dalam hadis Rasulullah Saw: بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (H.R. Bukhari). Maka, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga sebagai ruang pembinaan karakter dan spiritualitas. Dengan membiasakan Al-Qur’an sebelum belajar, nasehat dan motivasi, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat iman, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan kehidupan.